
[image taken from http://www.trondheimanglicans.net]
Pada suatu malam, seseorang mengetuk pintu rumah saya. Saya yang kebetulan sedang sendiri di rumah melihat keluar dan menemukan bahwa orang tersebut adalah teman lama orang tua saya yang menggeluti bisnis MLM. Saya mempersilakan beliau masuk.
Sebut saja beliau Pak P.
Malam itu raut mukanya terlihat bersemangat walaupun setelannya lusuh penuh dengan keringat.
Karena hanya ada saya dirumah, maka beliaupun ‘terpaksa’ hanya mengobrol dengan saya karena yang sebenarnya beliau cari adalah orang tua saya yang saat itu kebetulan berada di luar kota.
Saya kemudian menanyakan kabar Pak P terlebih dulu… apa kegiatannya saat ini… apakah masih menggeluti MLM yang sama?
Pak P menjawab dengan antusias bahwa sekarang beliau menjalankan bisnis MLM dengan menjual alat kesehatan. Dengan menggebu-gebu beliau menceritakan keberhasilannya membeli sebuah mobil dari hasil komisi MLM yang ini.
Saya hanya tersenyum mendengarkan cerita beliau
Tentu saja saya masih belum percaya saat itu juga karena saat itu beliau datang menggunakan motor, tapi setelah dipikir-pikir lagi, Pak P adalah orang yang lugu dan jujur, jadi saya memutuskan untuk ‘agak’ percaya.
Akhirnya malam itu beliau pamit dan akan datang keesokan harinya.
Tiga hari kemudian, Pak P datang disaat yang tepat saat orang tua saya berada di rumah. Pada pertemuan kali ini. Pak P menjelaskan bisnisnya secara detail kepada saya dan ibu saya. Saya bahkan terpaksa jadi ‘kelinci percobaan’ produk yang dibawanya saat itu (jika bukan karena paksaan ibu saya, pasti sudah saya tolak).
Ibu saya begitu terpesona melihat demonstrasi yang diperagakan beliau terhadap saya, sedangkan saya seperti biasa, selalu skeptis pada pertama kali.
Menurut saya bagus tidaknya sebuah produk tidak dapat dibuktikan dalam sekali pakai/pertemuan namun harus teruji dalam jangka panjang.
Produk kesehatan yang ditawarkannya tergolong mahal (>1 juta). Walaupun insting saya mengatakan produk ini lumayan, namun logika saya menggelitik saya untuk ‘menguji’ Pak P dengan mengatakan bahwa produk tersebut bagus, tapi untuk harga setinggi itu, orang tidak akan percaya kegunaannya jika hanya didemokan sekali saja. Untuk itu sebuah ‘trial’ akan menguatkan keyakinan calon pembeli akan kualitas produk tersebut dan tentu saja akan lebih mudah bercerita kepada orang lain karena sudah merasakan sendiri manfaatnya.
Mendengar ‘tantangan’ saya, ibu saya setuju, tetapi Pak P ragu untuk meminjamkan produk semahal itu pada kami untuk diujicoba selama beberapa minggu. Saya tahu Pak P membawa lebih dari 5 buah produk yang tentunya tidak akan menjadi masalah jika satu buah dipinjamkan pada kami.
Mungkin beliau berpikir kami juga belum tentu membeli…jadi ini adalah sebuah perjudian.
Pertemuan itu berakhir dengan beliau memasukkan kembali semua produknya dan pamit kepada kami. Pak P tidak memberi jawaban apa-apa.
Okeee! Tidak masalah bagi kami karena Pak P memposisikan dirinya sebagai seorang PENJUAL, bukan seorang TEMAN LAMA yang datang untuk memberikan manfaat bagi kami.
Mari kita analisa disini…
Yang saya maksud memposisikan sebagai PENJUAL, adalah mindset bahwa seseorang ingin mendapatkan keuntungan dari orang lain dengan pengorbanan/rugi yang sekecil-kecilnya. Prinsip ekonomi yang saya sebut kapitalis murni. Tidak memikirkan dari sisi calon pembeli sama sekali.
Coba kita bandingkan dengan posisi sebagai TEMAN, sebuah mindset dimana si penjual beranggapan bahwa dia menemui calon pembeli untuk MENOLONG dengan apapun yang dia bisa sebagai seorang TEMAN. Seorang teman yang menginvestasikan KEPERCAYAAN untuk mendapatkan KEPERCAYAAN. Seorang teman yang selalu siap MEMBANTU dan di masa depan akan TERBANTU.
Saya yakin anda pernah membeli sesuatu atas rekomendasi seorang teman, atau memilih membeli pada teman sendiri karena dia pernah membantu anda.
Saya yakin anda akan cenderung percaya kepada seseorang yang mempercayai anda terlebih dahulu.
Saya juga yakin jika kita BERUTANG BUDI kepada seseorang, kita akan sangat senang untuk membayarnya di kemudian hari.
Kembali pada kasus Pak P…
Saat itu saya berpikir sederhana…
Saya hanya mempercayai seseorang yang sudah menginvestasikan kepercayaannya pada saya, jadi saya akan melihat apa reaksi selanjutnya dari Pak P.
Bagaimana mungkin dia berharap saya mempercayai seseorang yang mengaku sebagai seorang teman, namun datang dengan tujuan MENDAPATKAN UNTUNG dari saya, bukannya memberi saya sebuah SOLUSI atas permasalahan saya?
Sebenarnya ini adalah prinsip yang sederhana yaitu prinsip timbal balik. Siapa memberi, dia mendapat. Siapa percaya lebih, maka dia dipercaya lebih.
Pernah suatu ketika Bapak Edi Setiawan (trainer UnICom) bercerita kepada saya. Dalam sebulan beliau memberikan free seminar dan training di beberapa universitas. Kemudian mengatakan pada peserta bahwa siapapun yang ingin berdiskusi atau membutuhkan bantuan, dengan senang hati beliau akan membantu semaksimal mungkin.
Karena kebanyakan adalah mahasiswa, maka secara logika mahasiswa adalah pasar yang kurang potensial jika dilihat dari klien-klien yang pernah ditangani oleh beliau. Banyak dari peserta tersebut tertarik dan magang sekaligus belajar dari beliau tentang komunikasi bisnis dan interpersonal. Hal ini tidak masalah karena mindset MENOLONG TEMAN sudah seperti kebiasaan bagi beliau.
Setahun dua tahun kemudian, beberapa dari mereka yang sudah lulus dan bekerja di perusahaan-perusahaan, menghubungi beliau karena perusahaan mereka ingin mengadakan pelatihan atau training bagi karyawan. Sebagian lagi menghubungi beliau karena merasa DIBANTU oleh beliau saat mengalami persoalan pribadi.
Dari orang-orang inilah rekomendasi demi rekomendasi terus mengalir dari orang-orang yang merasa terbantu oleh beliau sehingga pekerjaan terus mengalir tanpa harus susah-susah berpromosi.
Kembali pada kasus Pak P…
Setelah seminggu tidak menghubungi kami, Pak P akhirnya datang ke rumah dan menyetujui untuk meminjamkannya kepada ibu saya. Saya tersenyum karena dengan begitu berarti beliau sudah menginvestasikan kepercayaannya pada keluarga saya.
Alhasil pada bulan tersebut, ada 3 buah order dari rekan bisnis ibu saya. Buah manis dari KEPERCAYAAN yang telah diinvestasikan Pak P kepada keluarga kami.
Nantikan artikel selanjutnya, semoga bermanfaat bagi anda ![]()
Dimas Rochmad

July 23, 2008 at 4:49 am
masih menyisakan pertanyaan mas, apakah akhirnya sampeyan bergabung di mlm pak p itu ?
July 23, 2008 at 1:28 pm
@herru
Jika anda baca lagi pada paragraf kedua terakhir, menurut anda bagaimana?
August 12, 2008 at 2:25 am
salam sukses
dunia ini negatif makanya banyak orang mudah terpengaruh oleh lingkungan. mereka cenderung sensisif terhadap sesuatu yang negatif dan malas membicarakan suatu kebaikan. itulah penyakit manusia yang menyeret ke lembah kegagalan.
salam kenal saya member k-link.com
go sukses.
August 12, 2008 at 10:29 am
Mengapa MLM dijauhi masyarakat? Karena masyarakat merasa didekati.
Merenung, dimulai.
August 13, 2008 at 5:27 pm
@ryan
apa yang anda bilang memang benar, tapi saya selalu mencoba tidak memisahkan diri saya sebagai “positive thinking guy” dari orang2 lain yang dianggap “negative thinking guy”.
Suatu kali sahabat saya diundang ke sebuah pertemuan oleh temannya yg saya kenal. Sahabat saya diberi tahu bahwa itu adalah sebuah acara tentang komunikasi dan leadership.
Karena sahabat saya tidak berani untuk hadir sendiri, maka dia mengajak saya untuk menemaninya (dan menduga2 bahwa mungkin itu pertemuan MLM).
Saya bilang tidak masalah walaupun itu adalah sebuah pertemuan MLM, karena waktu itu saya hanya ingin menyapa teman sahabat saya itu karena lama tidak berjumpa.
Kamipun berangkat ke pertemuan tersebut dan anda tahu apa yang terjadi?
Pertemuan tersebut ternyata adalah sebuah kelas kecil yang melatih cara komunikasi dan leadership dengan menggunakan bahasa inggris.
Sebuah pertemuan yang TERLALU MENARIK UNTUK DILEWATKAN jika saya menolak datang hanya karena rasa curiga/praduga kalau itu adalah sebuah pertemuan MLM
August 13, 2008 at 5:30 pm
@Lex dePraxis
Ahahaha…reverse psychology….saya tahu anda ahlinya
August 14, 2008 at 6:08 pm
panjang juga ya postingannya..

kenapa harus ada utang budi sieh?
kenapa gak secara sukarela saja, kalau mau bantu ya bantu, mau beli ya beli, mau jual ya jual..
apa enak kalau waktu nanti dia kesusahan trus cerita ke sampeyan, bilang: “kan dulu saya sudah bantu kamu, giliran kamu bantu saya.” disela-sela pembicaraan?
kayak dagang, gak selalu untung walau pedagang itu ngarep untung.
saya rasa dengan kesukarelaan gak akan ada yang merasa dirugikan atau diuntungkan.
cuma di salah satu pihak jangan ada yang ngelunjak..
August 16, 2008 at 12:10 pm
@mew da vinci
BENAR SEKALI…pola pikir yang ditekankan sebagai PENJUAL adalah
DENGAN SUKARELA MENOLONG
atau
HELP AND FORGET
Memang benar calon pembeli akan membeli jika dia membutuhkan produk yang kita jual.
Lalu bagaimana jika saat itu calon pembeli tidak membutuhkan barang yang kita jual saat itu, melainkan sedang membutuhkan sebuah solusi lain yang anda kebetulan bisa membantu? mungkin informasi atau apapun
HELP AND FORGET
Begini prosesnya :
——————————
Anda bantu calon pembeli…
Calon pembeli merasa terbantu…
Anda merasa senang sudah bisa membantu…
Anda MELUPAKAN kejadian itu…
Anda MELUPAKAN calon pembeli tersebut
———————————
Hey..disini anda LUPA sudah MENANAM POHON INVESTASI
Ada 2 hal yang penting
1.Jika investasi itu berbuah, tentu anda senang.
2.Jika investasi tidak berbuah? bukankah anda sudah lupa?
Dengan begini saya rasa tidak akan ada rasa sakit hati seperti yang anda sebutkan
August 25, 2008 at 6:39 pm
sy setuju soal mempercayai kepercayaan itu…rasanya bagus sekali bila kita mampu mempercayai seseorang. Otomatis, kepercayaan kita pu akan dibalas dengan kepercayaan lagi (kecuali bila sosok yg kita percaya ternyata bajingan berbulu domba hahahaha)
August 25, 2008 at 7:46 pm
@uwiuw
bukankah yang penting kita-nya? bukan bajingan berbulu domba-nya
rasanya sayang sekali kalo kita menjadi seseorang yang tidak berani untuk mempercayai siapapun hanya gara-gara pernah dikhianati.
September 4, 2008 at 5:21 pm
jadi skeptis euy buat beli gelang magnet dari MLM ‘itu’
September 7, 2008 at 3:06 pm
@prasta
kalo aku boleh saran sih, sebaiknya jadikan sebagai alternatif aja, jalani pengobatan medis dulu yang dianjurkan dokter.